Mampu dan Syukur

Mampu, kata yang seringkali menjadi alasan atas sebuah hal yang menjadi milik, menjadi jalan, menjadi layak untuk didapatkan. Karena mampu maka jalan yang bahkan jauh dari sebuah harapan, bisa menjadi milik. Sesuatu yang bahkan sangat diinginkan, takkan pula menjadi milik. Semua karena sebuah alogaritma : mampukah kita?

Jika kita mampu, maka berbanggalah dengan segala hal yang telah ada pada diri. Ingat kawan, Allah itu takkan memberikan sesuatu yang berada di luar kemampuan. Sesungguhnya, semua hal yang telah terjadi di jalan yang dilalui, peristiwa peristiwa yang menyertai, rezeki yang membersamai, karir yang ditapaki, bahkan sakit yang sedang melilit, semua tersebab karena kita mampu. Takkan mungkin kejadian tersebut diberikan pada mereka yang tidak mampu. Mengeluh bukanlah upaya bijak menyikapi kemampuan yang ada pada diri. Namun bersuyukur yang seharusnya selalu terhatur pada Sang Ahlinya, Bukankah Allah itu Maha Pengatur. Dia tau, kemampuan kita, maka diberikanlah sesuai porsinya.

Bukankah Nabi Ayub dibekali dengan nikmat sakit menahun, yang bahkan isterinya pun pergi? Namun itulah ujian kemampuannya. Lalu Nabi Musa pun dibersamai dengan kaumnya yang bebal karena sihir, maka diberilah ‘Tongkat’ yang menghancurkan semua sihir yang bahkan membelah lautan. Namun itulah ujian kemampuannya di negeri yang memuliakan sihir. Lantas Nabi Isa yang di uji dengan masa yang dipenuhi ilmu kedokteran, maka diberilah Ia kemampuan untuk menyembuhkan dan menghidupkan. Inilah tingkat mampu yang dimiliki Isa. Bagaimana dengan Muhammad, Rasul penghujung zaman yang selalu dicerca dan diolok oleh kaumnya yang mengagungkan sastra? Al Qur’an menjadi jawaban yang membungkam. Inilah bentuk mampu Rasulullah.

Namun, acapkali mampu dipertanyakan kembali oleh hati. Terucap kesah karena jalinan takdir yang terasa membuat lelah. Lelah dari nikmatnya keadaan apapun saat ini, mungkin saja itu yang terbaik karena kita mampu. Banyak mereka yang lebih dan banyak pula mereka yang kurang, namun semua adalah ujian. Ujian pada kemampuan, indikator bagi tingkat kesyukuran. Rasa syukur terhadap apapun yang diberikan dan inilah yang akan menjadi pembawa penawar, pembawa keberkahan yang bukan hanya sekedar, tapi berlimpah limpah. Bukankah Dia sudah mengatakan : Sesiapapun kamu yang bersyukur, maka akan dikucurkan nikmat yang penuh kemelimpahan. Tenang saja kawan, bagaimanapun kondisi saat ini,semua tersebab karena mampu.

Barangkali itulah batas mampu yang kita miliki sehingga dikaruniai berbagai kondisi saat ini. Pastikanlah bahwa mampu yang melekat pada diri, akan menjadi sebab mengucurnya syukur, menjadi jalan berbenah tanpa kesah, yang akan membawa derajat meningkat hingga mengetuk pintu Rahmat, dan pada tahapan berikutnya, langitpun akan membelah dengah kucuran barokah.

Bersyukurlah dengan kemampuan!

U.

 

 

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s