Kebijakan Lisan

Ada sebuah cerita bijak tentang lisan yang cakap. Yang memberikan petuah dengan segera bersama untai kata yang juga elok mempesona. Yaa, lisan memang selalu menjadi perkara, yang mendekatkan juga memberangus kebersamaan. Tatkala sadar berucap, maka lisan teruntai dengan sempurna, melegakan dan mendinginkan sekitar.

Kalian tau kawan, kesalahan ucap sebenarnya bukanlah karena lisannya yang salah. Namun karena iri yang membibit dalam diri bertumbuh menjadi bunga kata yang membusuk, menguar bersama ucapan yang dikeluarkan. Pribadi yang menjadi wadah, itulah yang penting  untuk diluruskan agar lisan terarah, kata menghilangkan amarah, juga yang lebih penting dari segalanya adalah keseharian menjadi penuh dengan barokah.

Cerita lisan bijak bukanlah barang baru kawan, ia telah hidup sejak awal bahasa ditemukan sebagai pengantar komunikasi. Mengantarkan jutaan manusia cakap yang menggemakan petuah dihiasi kalimat indah nan padat berisi. Pun begitu, tak selamanya lisan bijak mendominasi kisah, ada banyak juga lisan berduri yang dilontarkan, menembak mereka yg juga tak pandai menyikapi. Membuat sebagian menenggak kebencian dan sebagian lain menelan bulat kekacauan. Terus berulang, kecakapan lisan berbuah bahagia ditingkahi kecaman kata yang membuahkan perkara.

Kini dan mendatang, kisah ini akan terus mengambil tempat. Hanya saja, kita akan memilih kecakapan bertutur kata ataukah porsi sebaliknya?

U.

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s